Selasa, 15 September 2009

Pemerintah Akan Segera Batasi Produksi Plastik

Pemerintah segera mengeluarkan peraturan tentang pembatasan produksi dan penggunaan produk plastik. Peraturan pemerintah turunan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah itu bertujuan menekan jumlah sampah plastik yang mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan.

”Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup sedang mengkaji peraturan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah plastik,” ungkap Menneg LH Rachmat Witoelar pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (25/2). Rachmat mencanangkan kampanye bebas kantong plastik di halaman SD Kristen Santa Theresia I, Surabaya.

Menurut Deputi Pengendalian Pencemaran Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup M Gempur Adnan, ada tiga peraturan pemerintah (PP) mengenai pengelolaan sampah akan dikeluarkan Mei nanti. ”Akan diterapkan konsep extended producer responsibilty (EPR), tanggung jawab para produsen secara lebih luas hingga pada kemasan produk,” tuturnya.

Rachmat menjelaskan, PP tersebut akan mendorong produsen menghasilkan plastik biodegradable—mudah terurai—dan akan memberikan insentif.

Konsumen didorong mengurangi penggunaan plastik. ”Harapannya, perilaku masyarakat menggunakan plastik sedikit demi sedikit berubah,” tutur Rachmat.

Gempur menyebutkan, setiap individu menghasilkan rata-rata 0,8 kilogram sampah per hari. Sebanyak 15 persennya adalah plastik. Dengan asumsi 220 juta penduduk Indonesia, sampah plastik yang terbuang mencapai 26.500 ton per hari.

Wali Kota Surabaya Bambang DH menyatakan, pihaknya tengah mendorong daur ulang. ”Bila perlu, aturannya dimuat dalam perda dengan mengacu pada Undang-Undang Pengelolaan Sampah,” katanya.


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/26/00461853/pemerintah.akan.segera.batasi.produk.plastik, dalam :

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9445&Itemid=709
17 September 2009

Indomaret Luncurkan Kantong Plastik Ramah Lingkungan

Guna menjaga lingkungan Indonesia menjadi lingkungan yang baik sekaligus menekan jumlah kantong plastik yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan, Indomaret meluncurkan penggunaan kantong plastik ramah lingkungan di Jakarta.

''Kami sebagai pelaku usaha ritel mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan. Karena itu, hari ini kami meluncurkan penggunaan kantong plastik ramah lingkungan oxium (oxi degradable yang mudah terurai (biodegradable) dan telah dimulai secara bertahap sejak Juli 2009,'' tandas Marketing Director PT Indomaret Prismatama Laurensius Tirta Widjaja kepada wartawan.

Laurensius mengungkapkan, penggunaan kantong plastik di Indonesia selama ini, cukup tinggi apalagi dengan jumlah penduduk yang saat ini mencapai 220 juta jiwa. Mengutip informasi yang didapat dari Kantor Lingkungan Hidup, setiap hari rata-rata orang menghasilkan sampah 0,8 kg dan sebanyak 15 persen di antaranya adalah sampah plastik.

''Kalau kita teruskan penggunaan plastik yang konvensional per harinya bisa merusak kehidupan alam Indonesia hampir 26.500 ton per hari. Nah, plastik konvensional ini tidak bisa dihancurkan. Kita merasa ikut bersalah besar kalau sampai anak cucu kita nanti menderita akibat ulah kita sekarang ini. Karena itulah, Indomaret sebagai pengelola ritel, merasa perlu untuk meluncurkan menggunakan kantong plastik ramah lingkungan demi menjaga lingkungan alam kita,'' tandasnya.

Penggunaan kantong palstik ramah lingkungan tersebut, papar Laurensius lebih lanjut, merupakan komitmen Indomaret dalam ikut serta menjaga kelestarian alam serta mendukung program pemerintah yang telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

Berdasarkan penelitian, sambung Laurensius di dunia rata-rata keluarga menggunakan 1460 plastik per tahun. Hanya kurang dari satu persen plastik dapat hancur. Sedangkan untuk dapat hancur membutuhkan waktu sekitar 100 tahun.

Selama ini, sambung Laurensius, Indomaret sebagai tempat yang menjual kebutuhan pokok dan sehari-hari, setiap bulan membutuhkan kantong plastik konvensional rata-rata 48 kg per toko. ''Dengan jumlah toko Indomaret saat ini di seluruh Indonesia mencapai 3624 gerai, dibutuhkan sekitar 174 ton per bulan. Ini bukan angka yang main-main. Karena itulah kita terus berpikir bagaimana memulai Go Green atau plastik yang ramah lingkungan.''

Laurensius menyebutkan, plastik ramah lingkungan itu sendiri banyak kriterianya. Ada yang cepat sekali hancur, ada yang media dan ada yang sedang. ''Kita menggunakan plastik yang diharapkan dalam jangkau dua tahun bisa mengurai kemudian menyatu dengan alam. Saya pikir ini cukup. Kalau yang ukuran lebih cepat, jangan-jangan belum dipakai sudah jebol,'' ujar Laurensius.

Ia tidak menampik ketika disebukan dengan menggunakan plastik ramah lingkungan ini, biaya yang dikeluarkan Indomaret pun bertambah. ''Biayanya otomatis naik. Dan kami tidak hanya melihat itu saja. Kalau bicara untung rugi terus, tidak mungkin kita berpikir CSR. Kita pikir, tidak apa-apa cost ditambah yang penting lingkungan kita lebih lestari, lebih serasi dan anak cucu kita dapat kita persiapkan dengan baik,'' jelas Laurensius menambahkan.

Kantong plastik oxium sendiri terbuat dari campuran zat degradable, sehingga plastik akan melebur dalam waktu dua tahun. Periode kehancurannya tergantung dari panas dan kelembaban penyimpanannya serta berlaku untuk semua jenis ketebalan plastik.dam/pur
- 6 September 2009

Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/74474/Indomaret_Luncurkan_Kantong_Plastik_Ramah_Lingkungan
17 September 2009

Kampanye HMTL: Katakan Tidak pada Kantong Plastik!

Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang. Hal ini dapat memperburuk global warming karena kurangnya pohon sebagai paru-paru bumi yang dapat menyerap emisi gas rumah kaca. Selain bahan dasarnya yang non-renewable (dari hasil samping pengambilan bahan bakar minyak), plastik juga tidak hemat energi dalam proses pembuatannya.

Sampah yang timbul dari pemakaian kantong plastik pun dapat menjadi masalah. Hampir semua kantong plastik akhirnya dibuang dan berakhir di landfill (lahan penimbunan sampah –red). Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 500 tahun hingga dapat terdekomposisi dengan sempurna. Sampah kantong plastik yang ditimbun di landfill dapat mencemari tanah dan air tanah sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia.

Apalagi jika sampah kantong plastik itu dibuang sembarangan. Ratusan ribu penyu, paus, dan mamalia laut lainnya mati karena memakan sampah plastik (salah satunya kantong plastik bekas) yang dibuang ke laut. Mereka salah mengiranya sebagai makanan. Sampah plastik yang dibuang sembarangan juga dapat menyumbat saluran drainase dan mengotori sungai. Sebagai contoh, banjir besar yang terjadi di Bangladesh tahun 1998 dan India tahun 2002 disebabkan karena sampah plastik yang menumpuk di sungai. Banjir yang melanda sebagian wilayah Indonesia baru-baru ini selain merupakan fenomena alam juga disebabkan kesalahan manusia, contohnya menumpuknya sampah di saluran drainase dan sungai. Salah satu jenis sampah tersebut adalah kantong plastik bekas.

Walaupun plastik telah digunakan sejak 50 tahun lalu, namun penggunaannya meningkat tajam sejak 25 tahun terakhir seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi semakin konsumtif. Plastik memang memiliki kelebihan yaitu ringan, kuat, tahan lama, mudah dibentuk, dan merupakan isolator yang baik. Sampai sekarang belum ditemukan materi pengganti plastik yang ramah lingkungan.

Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tapi kita dapat menguranginya dengan membawa tas sendiri yang dapat dipakai berulang kali saat berbelanja.

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB mengadakan gerakan yang disebut “Anti Plastic Bag Campaign” untuk mengkampanyekan penggunaan tas sendiri ini. Kampanye ini bertujuan untuk menginformasikan dampak negatif penggunaan kantong plastik pada masyarakat dan memasyarakatkan penggunaan tas sendiri sebagai pengganti kantong plastik. Di negara-ngara maju, kampanye seperti ini sudah banyak dilakukan dengan jargon “Say No to Plastic Bags” atau “Bring Your Own Bag”. Sasaran kampanye ini adalah generasi muda (usia 15-25 tahun) atau biasa disebut Generation Y. Generasi ini lebih open minded dan mengikuti trend.

Rangkaian kampanye terdiri dari Lomba Desain Tas, 1000 Puisi Sampah Anak Indonesia, dan acara puncak berupa serangkaian kegiatan kampanye pada massa kampus ITB dan masyarakat Bandung akan diadakan pada tanggal 5-9 Februari 2008. Dengan adanya kampanye ini, diharapkan muncul trend peduli lingkungan di Indonesia.

Katakan tidak pada kantong plastik sekarang juga!
- 14 Januari 2008

Sumber :
http://www.itb.ac.id/news/1904.xhtml
17 September 2009

Plastik Berbahaya Bagi Kesehatan

Masyarakat diimbau waspada dalam menggunakan plastik untuk membungkus makanan cairan yang panas karena unsur yang dikandung plastik itu berbahaya bagi tubuh.

Peneliti dari Universitas Negeri Medan, M Yusuf Hasibuan kepada ANTARA di Medan, Minggu, mengatakan, kemasan plastik yang sering digunakan pedagang membungkus dagangannya dapat menyebabkan kanker.

Setelah diteliti, ternyata plastik tersebut mengandung Pemlastis Dioktilfalat (DOP) yang diketahui dari sifat toksisitas plastik berdasarkan uji karsinogenik.

Selain itu, DOP juga berasal dari minyak bumi yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis, katanya.

Berdasarkan uji kontaminasi DOP diketahui pada media oli (minyak mineral) sebesar 4,0670 persen dan kontaminasi pada media air sebesar 0,0939.

Pemlastis DOP yang dipanaskan pada media minyak dapat menyebabkan kontaminasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemanasan, karena kontaminasi DOP setelah pemanasan mencapai 4,5893 persen.

Maka, bila mie atau pun sejenisnya yang disaji secara panas dan dibungkus dengan kemasan plastik sangat berbahaya bagi kesehatan, karena mengandung super toksit (sangat beracun).

"Semakin panas air tersebut di dalam plastik, maka semakin bahaya, karena tingkat kontaminasi akan semakin tinggi," ujarnya.

Bila ingin menikmati bakso, misalnya, masyarakat disaranka untuk makan di tempat tersebut sehingga tidak perlu dibungkus.

Jika hendak dibungkus, lanjutnya, gunakanlah kemasan yang aman, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap kesehatan tubuh.

Pedagang bakso di Pusat Pasar Medan, Erwin mengatakan, selama ini bila ada yang membeli bakso untuk dibawa pulang, sesekali memang dibungkus dengan kemasan plastik.

Ia mengaku, belum mengetahui perihal bahaya yang terkandung di dalam plastik tersebut bila digunakan sebagai pembungkus bakso dalam keadaan panas.

"Setelah mengetahui ini tentu saya tidak akan menggunakannya lagi dan pembeli maupun penjual bakso lain akan saya beritahu," katanya.(*)
- 9 Agustus 2009

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/1249820972/plastik-berbahaya-bagi-kesehatan
17 September 2009

Plastik

Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka "malleable", memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan varias yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, "reliency" dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.

Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal karena shear stress- lihat keplastikan (fisika) dan ductile.
Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi lainnya juga umum.
Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan "bergantung" dari tulang-belakang (biasanya "digantung" sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup "pendant" telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut.
Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, "shellac") sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, "nitrocellulose") dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).


Sejarah

Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20 yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.


Jenis Plastik

Plastik dapat digolongkan berdasarkan:

A. Sifat fisikanya

1. Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS, polikarbonat (PC)

2. Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi. Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-formaldehida

Kinerja dan penggunaanya

1. Plastik komoditas
sifat mekanik tidak terlalu bagus
tidak tahan panas
Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN
Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus makanan, botol minuman

2. Plastik teknik
Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 °C
Sifat mekanik bagus
Contohnya: PA, POM, PC, PBT
Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik

3. Plastik teknik khusus
Temperatur operasi di atas 150 °C
Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas 500 Kgf/cm²)
Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR
Aplikasi: komponen pesawat


Proses Manufaktur Plastik

1. Injection molding
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas diinjeksikan ke dalam cetakan.

2. Ekstrusi
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara kontinyu ditekan melalui sebuah orifice sehingga menghasilkan penampang yang kontinyu.

3. Thermoforming
Lembaran plastik yang dipanaskan ditekan ke dalam suatu cetakan.

4. Blow molding
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas secara kontinyu diekstrusi membentuk pipa (parison) kemudian ditiup di dalam cetakan


Industri

Sekarang ini utamanya ada enam komoditas polimer yang banyak digunakan, mereka adalah polyethylene, polypropylene, polyvinyl chloride, polyethylene terephthalate, polystyrene, dan polycarbonate. Mereka membentuk 98% dari seluruh polimer dan plastik yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Masing-masing dari polimer tersebut memiliki sifat degradasi dan ketahanan panas, cahaya, dan kimia.

Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
1. 1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
2. 5 ~ 11 Cair (bensin)
3. 9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
4. 16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
5. 25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
6. 1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

Berdasarkan sumbernya

1. Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut

2. Polimer sintetis

Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren
Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)


Sekilas

Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi polimer sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan sifat dan kegunaan yang beragam. Bahan polimer alami seperti shellac dan amber telah digunakan selama beberapa abad. Kertas diproduksi dari selulosa, sebuah polisakarida yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam tumbuhan. Biopolimer seperti protein dan asam nukleat memainkan peranan penting dalam proses biologi.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Plastik
17 September 2009